Berikut adalah catatan penting PGRI dalam lembaran sejarah organisasi guru:
1. Penghapusan “Kasta” Guru (1912–1945)
Sebelum PGRI lahir, organisasi guru di Indonesia sangat terfragmentasi berdasarkan kepentingan pemerintah kolonial.
-
Era PGHB (1912): Bersifat unitaristik namun masih di bawah bayang-bayang administrasi Belanda.
-
Era Organisasi Sektoral: Muncul organisasi berdasarkan latar belakang pendidikan, seperti Hoogere Kweekschool Bond (HKB) untuk lulusan sekolah guru tinggi, atau organisasi berdasarkan etnis dan agama.
2. Konsistensi Sifat Unitaristik
-
Makna: Tidak membedakan guru negeri atau swasta, guru umum atau agama, serta guru tetap atau honorer.
Struktur Perjuangan dalam Lintas Sejarah
| Periode | Nama/Bentuk Gerakan | Karakteristik Utama |
| 1912 – 1932 | PGHB | Perjuangan nasib guru di bawah kolonial. |
| 1932 – 1942 | PGI | Munculnya semangat kebangsaan (Nasionalisme). |
| 1945 – 1950 | PGRI (Awal) | Perjuangan fisik dan pengakuan kedaulatan. |
| 1970 – 1990 | PGRI (Orde Baru) | Penataan organisasi dan loyalitas tunggal. |
| 2005 – Kini | PGRI (Era Profesi) | Fokus pada Sertifikasi, Kompetensi, dan Advokasi Hukum. |
3. Jembatan Transisi Politik Nasional
PGRI memiliki catatan sejarah sebagai organisasi yang mampu beradaptasi dalam tiga era kepemimpinan nasional:
-
Era Orde Lama: Menjadi benteng pertahanan pendidikan dari infiltrasi ideologi yang memecah belah bangsa.
-
Era Orde Baru: Berperan dalam stabilisasi pendidikan nasional dan pembangunan karakter melalui P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila).
-
Era Reformasi: Bertransformasi menjadi kekuatan penekan (pressure group) yang cerdas untuk menuntut anggaran pendidikan 20% dan kesejahteraan melalui UU Guru dan Dosen.
4. Pengakuan Internasional (EI)
Dalam catatan internasional, PGRI bukan organisasi lokal semata.
-
Solidaritas: PGRI sering menjadi rujukan bagi negara-negara berkembang lainnya dalam hal mengelola organisasi guru yang masif namun tetap solid secara administratif.
5. Warisan Budaya: Batik Kusuma Bangsa
Secara sosiologis, PGRI mencatatkan sejarah dengan menciptakan identitas visual yang paling dikenali di Indonesia.
-
Batik PGRI: Bukan sekadar seragam, batik ini adalah simbol perlawanan terhadap eksklusivitas. Saat guru mengenakan batik ini, tidak ada lagi perbedaan antara kepala sekolah dan guru kelas, antara profesor dan guru PAUD. Semuanya adalah Satu Korps.
Kesimpulan
Dalam catatan sejarah organisasi guru, PGRI adalah “Ibu” dari semua gerakan pendidikan di Indonesia. Ia adalah organisasi yang berhasil membuktikan bahwa meskipun guru memiliki latar belakang yang beragam, mereka bisa bersatu di bawah satu panji demi kepentingan anak didik dan kedaulatan negara.